Selasa, 06 Desember 2016

INILAH AKU, ALOYSIUS GONZAGA


Inilah kisahku. Aku tak pernah bermaksud menuliskan kisah hidupku supaya ditiru dan dielu-elukan. Aku membagikan kisahku padamu agar kematianku tidak menjadi sia-sia. Semoga dengan segala kekurangan dan kuunggulanku, kemuliaan sahabat dan Tuhanku semakin terpancar. Aku telah meninggalkan dunia ini pada usia dua puluh tiga tahun. Dan aku bersukacita atas rahmat kehidupan dan kematianku, karena dengan itu aku boleh menyerupai Dia yang kucintai dalam segalaku. Kini aku menuliskan kisahku, tentang siapa aku, dan bagaimana aku melakukan semuanya itu.

        Dengan segala kerendahan hati, aku mengaku bahwa akulah putra sulung dari pewaris tahta Castiglione delle Stivieri, pangeran dari kekaisaran Jerman yang melepaskan semua harta warisan demi mengikut jejak Kristus dalam Serikat Yesus dan menjadi seorang Yesuit. Aku telah menyelesaikan pertandinganku. Dan dalam segalanya aku berbesar karena Tuhan bersamaku. Hanya dalam nama-Nya yang kudus aku menang.

     Sebagaimana juga dirimu, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan dalam kalangan keluarga tertentu. Tetapi Tuhan telah mengaruniakan kepadaku gelar kebangsawanan sejak aku dilahirkan. Dan sebagai pangeran, aku telah bertarung melawan kekolotan yakni kekuasaan yang menekanku siang dan malam dari segala penjuru. Aku tidak lari dari semuanya itu, tetapi kupersembahkan kebebasan dan penderitaanku dalam pengorbanan bagi sesama yang paling miskin, tertindas, dan tersingkirkan. 

          Aku telah memutuskan dan memilih jalan hidupku sendiri. Jalan hidup yang tak pernah dipikirkan oleh para pangeran di zamanku. Tetapi karena kasih-Nya yang agung, aku dituntunnya dari hari ke hari untuk masuk dalam misteri cinta kasih sejati. Aku telah menerima banyak rahmat melalui berbagai percobaan, kesalahan, dan juga kecerobohan. Aku telah mengalami semuanya itu dan memetik buah-buahnya yang abadi.

       Bacalah kisahku ini dengan kritis, tantanglah dan pertanyakanlah kisahku di dalam hidupmu karena kusadari kemanusiaanku penuh dengan kelemahan dan bayang-bayang, walau aku selalu mencoba memenuhi diriku dengan cahaya dan kebaikan. Aku hanyalah sebatang besi bengkok-bengkok yang tak karuan bentuknya, besi yang perlu dibentuk menjadi lurus. Aku telah ditempa oleh seniman terbesar yang mengubahku menjadi seperti sekarang ini, menjadi karya seni yang dipercaya sebagai nama pelindung bagi lembaga-lembaga pendidikan, gereja, atau mungkin juga nama yang kau sebut dalam doa-doamu.

     Aku tidak berusaha menjadi martir cintakasih dengan membiarkan diriku dijangkiti penyakit, tetapi aku berusaha untuk selalu hadir di mana ada wajah Kristus tergambar di jalanan. Aku hanya berusaha tanpa henti untuk menjadi pantas dan layak dihadapan kuasa kasih-Nya yang agung. Dia pun membayar semuanya itu dengan harga yang pantas, karunia agung yang tak ternilai harganya.

       Hidup adalah cinta, senantiasa bertumbuh, berbuah, dan menjadi baru. Hanya orang-orang yang mencinta saja yang abadi di dalam arus zaman yang kejam. Hanya orang-orang yang sibuk dengan keinginan dunia saja yang terkejut pada segala spontanitas tak terduga yang selalu kita buat, karena kita muda, beda, tulus dan berani. 

          Hanya orang yang mencintai sajalah yang mengerti semua yang dianggap bodoh oleh dunia tetapi toh tetap kita lakukan dengan total dan penuh kesenangan. Karena cinta itu saja kita memberontak terhadap nilai-nilai yang diagung-agungkan dunia kekayaan, kehormatan, dan kesombongan. Dengan Kristus Raja sebagai panglima, kita mengenali hati nurani, menyingkirkan segala aral dan rintangan, dan menyelesaikan karya cinta kasih dengan kebebasan dan tanggungjawab. Oleh karena hidup yang seperti itulah, kematian menjadi rahmat dan sukacita yang besar.

           Inilah kisah hidup dan matiku. Tetapi bagimu, kenalilah dirimu sendiri. Karena manis-pahitnya hidup dan mati akan kita alami dan rasakan sendiri. Tetapi aku yakin bahwa dengan hidup dan matiku ini, aku ada bersamamu dalam pahit dan manisnya hidup dan matimu. 

Ad Maiorem Dei Gloriam

Senin, 05 Desember 2016

TANGGAL-TANGGAL PENTING DALAM HIDUP ST. ALOYSIUS GONZAGA



TANGGAL-TANGGAL PENTING DALAM HIDUP
ST. ALOYSIUS GONZAGA

Umur
Tahun


1568
9 Maret: Hari kelahiran dan pembabtisan Aloysius di Kastil Castiglione, Italia Utara.

5
1573
Aloysius menetap beberapa waktu bersama ayahnya di sebuah tempat pelatihan militer tempat ia pernah membahayakan dirinya.

8
1576
Seluruh keluarga pindah ke Monferrato untuk menghindari wabah.

9
1577
Agustus, Alyosius pergi ke Florence untuk memulai pendidikannya.

10
1578
Di Florence, Aloysius mengikrarkan janji untuk hidup murni selamanya, di hadapan sebuah lukisan “Maria menerima kabar dari malaikat Tuhan”.

11
1579
November, Aloysius pergi ke Mantua untuk belajar. Di sana ia berketetapan untuk melepas tahtanya dan menjadi imam.

12
1580
Juni, Aloysius kembali ke Castiglione, tempat ia menerima Komuni Pertama dari St. Karolus Borromeus.

13
1581
Di Monferrato, Aloyisus memutuskan untuk menjadi seorang religious. September, seluruh keluargapergi ke Spanyol untuk mengiringi Ratu dari Kekaisaran Austria.

14
1582
Di Madrid, ditunjuk untuk mengabdi kepada Putra Mahkota Spanyol.

15
1583
Kesedihan keluarga, pada 15 Agustus, Aloysius merasakan panggilan dari Bunda Maria untuk bergabung dengan Serikat Yesus

16
1584
Juli, keluarga itu kembali ke Castiglione. Kemudian Aloysius mengunjungi para pangeran terdekat dan pergi ke Milan untuk belajar.

17
1585
November, Aloysius melepas haknya atas tahta ayahnya dan pergi ke Roma untuk menjadi seorang Yesuit.

18
1586
Februari, wafatnya Don Ferrante. Oktober, Aloysius pergi ke Naples karena alasan kesehatan.

19
1587
Mei, Aloysius kembali ke Roma untuk melanjutkan pendidikannya dan mengikrarkan kaul pertamanya pada 25 November.

21
1589
September, William, Adipati Mantua wafat. Aloysius pergi ke sana dan ke Castiglione untuk untuk mendamaikan perseteruan antara adiknya Rudolfo dan adipati yang baru. Ia kemudian melanjutkan studi di Milan.

22
1590
Mei, Aloysius kembali ke Roma.

23
1591
Saat merawat orang-orang yang terserang wabah, Aloysius jatuh sakit dan wafat di Roma pada 20 Juni.

24 
1604
Juli, gambar Aloysius dipajang untuk menghormati kebaikan-kebaikannya di Castiglione, ibunya hadir.

25 
1605
Aloysius dibeatifikasi pada 21 September.

26 
1726
Aloysius dinyatakan kudus pada 31 Desember.
27 
1729

Aloysius dinyatakan sebagai Pelindung Para Pelajar pada 22 November.