Inilah kisahku. Aku tak pernah bermaksud menuliskan kisah hidupku supaya ditiru dan dielu-elukan. Aku membagikan kisahku padamu agar kematianku tidak menjadi sia-sia. Semoga dengan segala kekurangan dan kuunggulanku, kemuliaan sahabat dan Tuhanku semakin terpancar. Aku telah meninggalkan dunia ini pada usia dua puluh tiga tahun. Dan aku bersukacita atas rahmat kehidupan dan kematianku, karena dengan itu aku boleh menyerupai Dia yang kucintai dalam segalaku. Kini aku menuliskan kisahku, tentang siapa aku, dan bagaimana aku melakukan semuanya itu.
Dengan segala kerendahan hati, aku mengaku bahwa akulah putra sulung dari pewaris tahta Castiglione delle Stivieri, pangeran dari kekaisaran Jerman yang melepaskan semua harta warisan demi mengikut jejak Kristus dalam Serikat Yesus dan menjadi seorang Yesuit. Aku telah menyelesaikan pertandinganku. Dan dalam segalanya aku berbesar karena Tuhan bersamaku. Hanya dalam nama-Nya yang kudus aku menang.
Sebagaimana juga dirimu, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan dalam kalangan keluarga tertentu. Tetapi Tuhan telah mengaruniakan kepadaku gelar kebangsawanan sejak aku dilahirkan. Dan sebagai pangeran, aku telah bertarung melawan kekolotan yakni kekuasaan yang menekanku siang dan malam dari segala penjuru. Aku tidak lari dari semuanya itu, tetapi kupersembahkan kebebasan dan penderitaanku dalam pengorbanan bagi sesama yang paling miskin, tertindas, dan tersingkirkan.
Aku telah memutuskan dan memilih jalan hidupku sendiri. Jalan hidup yang tak pernah dipikirkan oleh para pangeran di zamanku. Tetapi karena kasih-Nya yang agung, aku dituntunnya dari hari ke hari untuk masuk dalam misteri cinta kasih sejati. Aku telah menerima banyak rahmat melalui berbagai percobaan, kesalahan, dan juga kecerobohan. Aku telah mengalami semuanya itu dan memetik buah-buahnya yang abadi.
Bacalah kisahku ini dengan kritis, tantanglah dan pertanyakanlah kisahku di dalam hidupmu karena kusadari kemanusiaanku penuh dengan kelemahan dan bayang-bayang, walau aku selalu mencoba memenuhi diriku dengan cahaya dan kebaikan. Aku hanyalah sebatang besi bengkok-bengkok yang tak karuan bentuknya, besi yang perlu dibentuk menjadi lurus. Aku telah ditempa oleh seniman terbesar yang mengubahku menjadi seperti sekarang ini, menjadi karya seni yang dipercaya sebagai nama pelindung bagi lembaga-lembaga pendidikan, gereja, atau mungkin juga nama yang kau sebut dalam doa-doamu.
Aku tidak berusaha menjadi martir cintakasih dengan membiarkan diriku dijangkiti penyakit, tetapi aku berusaha untuk selalu hadir di mana ada wajah Kristus tergambar di jalanan. Aku hanya berusaha tanpa henti untuk menjadi pantas dan layak dihadapan kuasa kasih-Nya yang agung. Dia pun membayar semuanya itu dengan harga yang pantas, karunia agung yang tak ternilai harganya.
Hidup adalah cinta, senantiasa bertumbuh, berbuah, dan menjadi baru. Hanya orang-orang yang mencinta saja yang abadi di dalam arus zaman yang kejam. Hanya orang-orang yang sibuk dengan keinginan dunia saja yang terkejut pada segala spontanitas tak terduga yang selalu kita buat, karena kita muda, beda, tulus dan berani.
Hanya orang yang mencintai sajalah yang mengerti semua yang dianggap bodoh oleh dunia tetapi toh tetap kita lakukan dengan total dan penuh kesenangan. Karena cinta itu saja kita memberontak terhadap nilai-nilai yang diagung-agungkan dunia kekayaan, kehormatan, dan kesombongan. Dengan Kristus Raja sebagai panglima, kita mengenali hati nurani, menyingkirkan segala aral dan rintangan, dan menyelesaikan karya cinta kasih dengan kebebasan dan tanggungjawab. Oleh karena hidup yang seperti itulah, kematian menjadi rahmat dan sukacita yang besar.
Inilah kisah hidup dan matiku. Tetapi bagimu, kenalilah dirimu sendiri. Karena manis-pahitnya hidup dan mati akan kita alami dan rasakan sendiri. Tetapi aku yakin bahwa dengan hidup dan matiku ini, aku ada bersamamu dalam pahit dan manisnya hidup dan matimu.
Ad Maiorem Dei Gloriam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar